Rant
Setiap hari rasanya menakutkan.
Bangun tidur, mikirin apa aja yang harus dilakukan hari ini.
Meski pada akhirnya yang dilakukan cuma main HP, sekolah, makan, minum, tidur, sholat.
Dengan tanda kutip, hampir seharian hanya main HP.
Udah cukup menjadikan hari itu melelahkan.
Sekolah rasanya menakutkan.
Terus menerima pesan, 'ayo masuk zoom.' atau sebagainya.
Rasanya seperti diteror.
Menerima pesan-pesan itu tanpa henti setiap kali telat sedikit, pengen nangis aja.
Mungkin, itu memang tanggungjawab mereka.
Tetap aja. Rasanya tidak nyaman.
Menghafal, Qur'an terutama, rasanya menakutkan.
Kalimat 'Ayo setoran, cuma satu ayat juga gapapa.'
Taukah dia? 'Satu ayat' itu sudah cukup menjadi alasanku ingin mati.
Atau mungkin, sebenarnya aku hanya pengen istirahat, yang lama.
Tapi kenapa kamu harus memakai kata, 'cuma', 'juga gapapa', seolah itu hal yang kecil?
Mungkin bagi kalian, itu memang hal yang kecil.
Sangat mudah, seolah membaca sekali pun sudah selesai.
Bagiku, itu sudah cukup menjadi alasan keinginanku mati.
Mungkin, memang aku yang malas.
Mungkin, memang aku yang tidak berusaha.
Berurusan dengan orangtua, atau orang dewasa, itu menakutkan.
Ucapan-ucapan kecil yang mereka lontarkan, entah dengan atau tanpa sadar, yang menyakitkan. Sangat. Menyakitkan.
Dan yang lebih buruk, aku yang ditakdirkan untuk diam.
Perintah-perintah mereka yang dibungkus dengan 'minta tolong', yang sangat melelahkan, dan seringkali sebenarnya tanggungjawab mereka.
Ah, iya, anak memang harus menurut. Berbakti. Orangtua juga sudah lelah bekerja. Giliran anak diperintah.
"Kalo orangtua nasehati, jangan ngejawab."
Bukannya kalian bertanya? Bukannya kalian menyimpulkan, dan memarahi? Kalo aku hanya mengiyakan, berarti membenarkan kemarahan kalian.
Tetapi, perbuatanku kan ada alasannya. Tidak bolehkah aku mengungkapkan alasanku, pendapatku, jadi aku harus membiarkan kalian tenggelam dalam kesimpulan kalian tentangku?
Mungkin, memang sudah begitu. Orangtua lebih tau dalam semua hal, karena sudah berpengalaman, sudah melewatinya. Anak harus diam, mengiyakan, tidak boleh menjawab. Menuruti, tidak usah berpendapat. Biasanya perkataan orangtua itu pada akhirnya benar. Anak memang diperintahkan tuhan untuk berbakti. Menurut. Oke.
Semuanya menakutkan.
"Dunia adalah penjara bagi orang muslim, dan surga bagi orang kafir."
'Meraih surga memang susah. Iyalah, hadiahnya surga. Kalau gampang sih, piring cantik.'
'Kalian menghafal Qur'an itu mungkin memang susah, tapi hadiahnya juga setimpal, yaitu surga.'
Mungkin dunia memang penjara bagi orang muslim.
Tapi, sebenarnya kan, kita bisa memilih untuk tinggal di penjara mana. Seharusnya aku juga bisa memilih penjaraku. Penjara yang setidaknya, bisa sedikit kunikmati.
Mengapa malah orang sekitarku yang melarang? Bukankah aku tidak harus masuk surga jalur menghafal?
Aku tidak keberatan, sekedar menjadi muslim yang menjalankan kewajiban dengan seadanya, dan setidaknya masuk surga yang paling rendah.
Sungguh, aku tidak keberatan.
Kenapa kalian memaksaku mencari penjara yang termasuk salah satu dari penjara-penjara yang paling membuatku tidak nyaman, paling membuatku takut, untuk mencapai surga paling tinggi, istana, mahkota, jubah.
Aku sudah cukup puas dengan masuk surga.
Kenapa kalian mendorongku masuk penjara yang mengerikan bagiku, atas keinginan kalian membuatku masuk surga paling indah?
Mungkinkah harus begitu?
Tapi aku benar-benar tidak ingin.
Itu bukan keinginanku.
Kalau kalian yang mau, kalian saja.
Itu kan, keinginan kalian.
Kalau kalian yang mau, kalian saja.
Jangan lampiaskan keinginan yang belum bisa kalian wujudkan, padaku.
Jangan aku.
Itu, terlalu menakutkan.
Komentar
Posting Komentar